Fokus Riset Indonesia ke Depan Harus Berbasis Keanekaragaman Hayati

Paliwara.id, JAKARTA – Fokus riset Indonesia ke depannya berbasis pada keanekaragaman hayati, seni budaya, sumber daya lokal dan geografis. Riset menurut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, berperan penting dalam menyokong keanekaragaman di Indonesia sehingga mempunyai nilai ekonomi.

Ia mencontohkan, mengapa produk seni budaya perlu ditopang riset dan teknologi. Para perajin rotan misalnya, akan sulit bersaing di pasar global jika  hanya menjual bahan mentah. Lain satu sisi, produk kerajinan rotan bisa ditolak di pasar Eropa jika tidak memiliki sertifikasi keamanan produk.

“Jadi selain membuka peluang kreatif para perajin namun juga ada aspek riset dan teknologi agar produk budaya nasional diterima pasar,” kata Laksana dalam Webinar Pra-Kongres PA GMNI “Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial yang dilaksanakan pada Jumat (7/4/2021) lalu. 

“Dunia ke depan bukan lagi digital atau elektronik melainkan bioteknologi. Indonesia yang punya banyak koleksi biodiversity, harus lebih unggul dibanding negara lain. Oleh karena itu, kita perlu melakukan refocusing pada kekayaan alam dan budaya kita lewat dukungan riset yang kuat,” tutur mantan Kepala LIPI tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama Universitas Gajah Mada (UGM) Paripurna Purwoko Sugarda, mendukung apa yang disampaikan Laksana mengenai kemajuan bangsa berbasiskan keanekaragaman hayati. Menurutnya, kebutuhan energi di Indonesia yang sangat besar dan mempunyai peluang untuk mengembangkan energi terbarukan (renewable energy).

Ia melanjutkan, Indonesia punya potensi besar atas energi terbarukan seperti tenaga angin, air, ombak, tenaga surya, panas bumi, biomass, dan lain sebagainya. Untuk menjadi pemenang energi di tingkat ASEAN, Indonesia perlu mengembangkan biofuel dan biomassa, mengembangkan strategi teknologi energi, mendorong energi terbarukan berbasis maritim, serta mendukung memperbarui limbah air sehingga dapat digunakan kembali. 

Bagi Paripurna, melahirkan teknologi hingga hilirisasi tepat guna bukanlah hal yang sederhana. Membutuhkan kolaborasi pentahelix, mulai dari institusi negara, lembaga riset, kolaborasi dengan BUMN dan sektor industri lainnya, menguatkan startup tanah air, bahkan harus cerdik menghadapi kompetitor teknologi dari negara lain. 

“Mindset nasionalisme teknologi itu harus dilaksanakan. Fanatik terhadap teknologi dalam negeri harus ada serta mencegah terburu-buru membeli teknologi asing dengan alasan lebih murah,” tutur Guru Besar Fakultas Hukum UGM. 

Bagi Laksana Tri Handoko, tantangan global bisa diatasi kalau bangsa ini mempunyai data riset berbasis ilmiah, memperkuat SDM riset dengan menarik talenta muda Indonesia dalam dan luar negeri, dan regulasi yang memberikan perlindungan kepada pemanfaatan keanekaragaman hayati.  

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengingatkan, Pancasila akan terus menjadi falsafah dan ideologi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu menyempurnakan cara mengajarkan Pancasila kepada anak.

Selama ini, pendidikan Pancasila lebih banyak pada hafalan tanpa dibarengi contoh dan teladan nyata sehari-hari. Akibatnya, nilai dan gagasan mulia Pancasila sulit diinternalisasi generasi muda. 

“Kami ingin mengubah pendidikan Pancasila menjadi lebih holistik dan kreatif. Misalnya pembelajaran berbasis proyek-proyek sosial. Proyek-proyek sosial inilah yang akan membentuk pelajar Pancasila di lapangan,” tutur Nadiem

Menteri Nadiem menjelaskan dari program tersebut diharapkan para pelajar dapat mempelajari keberagaman bisa lewat pertukaran pelajar yang berbeda golongan, tingkat sosial ekonomi, agama, dan perbedaan. Mereka akan berbaur tidak hanya mencintai toleransi tetapi juga menjadikan toleransi bagian kehidupan sehari-hari.

Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA-GMNI) Ahmad Basarah menyatakan, pengembangan riset dan teknologi nasional harus untuk mewujudkan keadilan sosial dan peradaban bangsa. Pengembangan riset dan teknologi nasional juga harus berbasis pada keanekaragaman hayati, geografi dan seni budaya lokal yang bersumber nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal bangsa Indonesia. 

Webinar tersebut menghadirkan narasumber;

  1. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim BA MBA;
  2. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Dr Laksana Tri Handoko;
  3. Wakil Rektor Bidang Kerjasama UGM dan Ketua DPD PA GMNI DIY Prof Dr Paripurna Poerwoko Sugarda, dan;
  4. Ketua Bidang Riset, Teknologi dan Informasi DPP PA GMNI/Institut Sarinah Dra Eva Kusuma Sundari MA MDE

Serta dipandu oleh Ketua Bidang Ideologi DPP PA GMNI dan Guru Besar ITB Prof Nanang Tyas Puspito.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

PaliWara medsos

0PengikutMengikuti
5PengikutMengikuti
- Advertisement -

Berita Terkini